Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

RAGAM · 29 Mar 2026 21:31 WIT

Duel Darah Tanpa Dendam, Tradisi Pukul Sapu Lidi dari Negeri Morella Ambon 


					Atraksi budaya Pukul Sapu Lidi dari Negeri Morella Pulau Ambon. Foto: Katharina/KabarPapua.co Perbesar

Atraksi budaya Pukul Sapu Lidi dari Negeri Morella Pulau Ambon. Foto: Katharina/KabarPapua.co

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Sabetan lidi membelah udara nyaring di kulit telanjang para pemuda asal Negeri Morella, Kabupaten Maluku Tengah. Sabetan itu menyisakan jejak luka memar merah hingga kulit badan yang terkoyak dan mengeluarkan darah.

Bukannya merintih kesakitan, para pemuda asal Pulau Ambon itu justru tersenyum lebar, bangga, seolah-olah ingin menunjukan kepada penonton di pelataran Taman Imbi Kota Jayapura Papua bahwa sabetan lidi itu tak berasa apapun di kulitnya. 

Atraksi budaya pukul sapu lidi dari Negeri Morella adalah budaya yang tetap menyala meski jauh dari tanah kelahiran dan menetap di tanah rantau. Tahun ini, Taman Imbi Kota Jayapura sengaja dipilih untuk acara budaya tersebut. Masyarakat setempat terlihat antusias menyaksikan keberanian para pemuda yang melakukan atraksinya dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek dengan dominasi warna merah dan putih.

Getah daun jarak yang diyakini dapat mengobati luka-luka akibat sabetan lidi. Foto: Katharina/Kabarpapua.co

Budaya Pukul Sapu Lidi dari Negeri Morella dilakukan setelah 7 syawal atau 7 hari setelah Lebaran berakhir.

Tradisi ini bukan sekadar unjuk kekuatan fisik. Akar sejarahnya menghujam dalam ke masa Perang Kapahaha di Negeri Hausihu Morella, saat para pejuang melawan penjajah Belanda. Pukul Sapu Lidi lahir sebagai “tanda mata” perpisahan para pejuang sebelum kembali ke negeri masing-masing usai peperangan.

​”Kalau mau bilang sakit ya sakit, tapi ini adat turun-temurun. Dukungan dari para tetua adat dan semangat spiritual membuat kami kebal dari rasa perih,” kata Abdul, salah satu pemuda yang terlibat dalam atraksi tersebut.

Para pemuda dari Negeri Morella usai melakukan atraksi Pukul Sapu Lidi di Taman Imbi Kota Jayapura. Foto: Katharina/KabarPapua.co

Dia menjelaskan atraksi ini memiliki filosofi yang dipegang teguh yakni Duel Darah Tanpa Dendam. “Kami saling pukul, namun kami tetap saudara yang terikat satu marga dan satu identitas. Semua dilakukan tanpa dendam,” jelasnya.

Getah Ajaib

Atraksi budaya Pukul Sapu Lidi dari Negeri Morella Pulau Ambon. Foto: Katharina/KabarPapua.co

Ketangguhan para pemuda ini juga didukung oleh kearifan lokal dalam pengobatan. Luka sayatan yang tampak mengerikan itu biasanya akan mengering hanya dalam waktu tiga hari. Rahasianya terletak pada penggunaan getah daun jarak yang dioleskan ke tubuh yang terluka. Ramuan tradisional ini diyakini mampu menyembuhkan luka dengan cepat tanpa meninggalkan bekas atau cacat permanen.

​Menjaga Akar di Tanah Rantau

Sekretaris Umum IKEMAL Pusat di Tanah Papua, Harry Silooy menjelaskan dukungan organisasi terhadap kegiatan ini adalah bentuk komitmen menjaga identitas. Di tengah modernitas, para pemuda Morela membuktikan bahwa jarak ribuan kilometer dari kampung halaman bukan alasan untuk melupakan jati diri.

Saling mengobati – Para pemuda dari negeri Morella usai mengikuti atraksi Pukul Sapu Lidi di Taman Imbi Kota Jayapura sedang mengolesi tatah daun jarak kepada pemuda lainnya. Foto: Katharina/KabarPapua.co

“​Setiap sabetan lidi, mereka tidak sedang menyakiti satu sama lain. Mereka sedang menenun kembali ikatan persaudaraan yang tak akan putus oleh waktu, membuktikan bahwa di tanah perantauan sekalipun, darah Maluku akan selalu mengalir bersama kehormatan leluhur,” katanya, ditemui di sela-sela kegiatan Pukul Sapu Lidi di Taman Imbi Kota Jayapura, Sabtu 28 Maret 2026.

Harry memastikan  atraksi ini jauh dari kesan kekerasan, meskipun tubuh para pemuda itu merah meradang dengan bekas sayatan lidi yang nyata, namun tak ada amarah di wajah mereka.

​”Mereka dipukul, tapi mereka tersenyum. Ada ketulusan dan keperkasaan di sana,” ujar Harry.

​Keunikan tradisi ini juga terletak pada aspek spiritualitasnya. Luka-luka yang menganga konon akan sembuh dengan cepat menggunakan getah daun jarak. *** (Katharina)

Artikel ini telah dibaca 55 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Film Agus Ohee adalah Napas Budaya Tanah Tabi

30 April 2026 - 15:39 WIT

Energi Kebaikan PLN, Bahagiakan Lansia hingga Anak Asuh di Tanah Papua

27 April 2026 - 21:55 WIT

Pesona Warna-warni Baju Bodo di Tanah Rantau Serui

27 April 2026 - 05:32 WIT

Istighosah Harlah, Simbol Kemandirian dan Sinergi Fatayat-Ansor Kepulauan Yapen

26 April 2026 - 16:19 WIT

8 Film Komunitas Papua Siap Menggetarkan Jayapura, Catat Jadwalnya

25 April 2026 - 21:20 WIT

Bantuan Kasih Umat Santo Yohanes Pembaptis Waena untuk Calon Imam Papua

25 April 2026 - 20:42 WIT

Trending di RAGAM