Menu ✖

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

KABAR KEPULAUAN YAPEN · 11 Feb 2026 18:58 WIT

60 Persen Siswa Kelas Awal di Yapen Belum Bisa Calistung


					Ilustrasi angka dan huruf. Foto: Net Perbesar

Ilustrasi angka dan huruf. Foto: Net

KABARPAPUA.CO, Serui–  Lokakarya Diseminasi Hasil Literasi dan Numerasi di Kabupaten Kepulauan Yapen mengungkap fakta mencengangkan. Sebanyak 50-60 persen siswa yang duduk di kelas 1-3 SD belum bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung). Dengan temuan ini, kemampuan calistung pada tingkat sekolah awal dalam kategori kritis atau “Lampu Kuning”.

Data yang dipaparkan oleh Yayasan Rumsram bekerja sama dengan UNICEF menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di wilayah yang dulunya dikenal sebagai pusat peradaban pendidikan di Tanah Papua.

Ketua Pembina Yayasan Rumsram, Herman Warwer menjelaskan survei di 10 sekolah intervensi menggunakan metode Early Grade Reading Assessment (EGRA) dan Early Grade Mathematics Assessment(EGMA), hasilnya sangat memprihatinkan.

Pembukaan Lokakarya Koordinasi dan Diseminasi Literas dan Numerasi Kabupaten Kepulauan Yapen. Foto: Ainun Faathirjal/kabarpapua.co

“Hampir 50 hingga 60 persen anak kelas 1 sampai 3 SD di Yapen belum memahami dan belum mampu membaca dengan baik. Ini adalah kendala serius yang butuh solusi lintas sektor segera,” kata  Herman ditemui di sela-sela lokakarya di Hotel Merpati Serui, Rabu 11 Februari 2026.

Herman menyebut kondisi ini sangat kontras dengan sejarah Yapen dan Biak sebagai pionir pendidikan di Papua. Diskusi ini diharapkan melahirkan rekomendasi kuat untuk Bapperinda dan Dinas Pendidikan guna membenahi kurikulum serta metode pengajaran di tingkat dasar.

Menanggapi temuan tersebut, Kepala Bapperinda Kepulauan Yapen, Saskar Paiderouw menjelaskan lemahnya kemampuan literasi ini bukan masalah baru, namun seolah terus berulang sejak tahun 2017.

“Hasil ini adalah cermin wajah pendidikan kita di Yapen. Malu supaya berubah, jangan malu lalu mundur dan tidak berbuat apa-apa. Dinas Pendidikan tidak boleh main-main, karena ini kasus besar,” kata Saskar.

Saskar memastikan Bapperinda akan melakukan intervensi anggaran dan program pada tahun 2026, mulai dari pelatihan guru hingga pendampingan intensif bagi siswa kelas awal agar kasus anak SD tidak bisa membaca tidak lagi menghantui Yapen.

Melalui kerja sama yang telah terjalin sejak 2019, Pemkab Yapen dan Yayasan Rumsram berkomitmen menjadikan data hasil riset ini sebagai dasar penyusunan program kerja tahun depan. Fokus utama bukan lagi hanya kuantitas sekolah, melainkan kualitas kemampuan dasar siswa.*** (Ainun Faathirjal)

Artikel ini telah dibaca 183 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Pemkab Kepulauan Yapen Perkuat Tata Kelola Alat Kontrasepsi dan Mutu Pelayanan KB

29 October 2026 - 10:24 WIT

Wabup Kepulauan Yapen Buka Aksi Konvergensi 5 Percepatan Penurunan Stunting 2026

28 October 2026 - 21:23 WIT

Reses di Kepulauan Yapen, Tonny Tesar Dorong Pembangunan Gereja dan Jalan

27 October 2026 - 20:51 WIT

Kontingen Pesparani Katolik Kepulauan Yapen Tiba di Biak Numfor Siap Tampil Maksimal

27 October 2026 - 11:34 WIT

Ribuan Warga Serui Ramaikan Acara Kosong Tujuh Fun Run 2026 dan Hiburan Rakyat

19 October 2026 - 12:42 WIT

Ikatan Alumni SMAN 1 Serui 2007 Sukses Gelar Fun Run Rangkaian Dua Dekade

19 October 2026 - 11:35 WIT

Trending di KABAR KEPULAUAN YAPEN