KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Komunitas Kintal Rum Fararur menggelar literasi dan seni yang melibatkan pelajar di Kota Jayapura sebagai upaya menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Port Numbay di kalangan generasi muda. Kegiatan berlangsung Kamis 18 Desember 2025 dan diikuti oleh 12 pelajar, terdiri dari tujuh peserta kategori menulis dan lima peserta kategori rap, dengan seluruh karya mengangkat tema budaya lokal.
Ketua Komunitas Kintal Rum Fararur, Onesias Chalvox Urbinas menjelaskan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari gagasan sederhana yang lahir dari diskusi-diskusi informal para pegiat budaya. “Dari tongkrongan, ide ini berkembang menjadi ruang aktivasi budaya yang nyata bagi pelajar,” ujarnya.
Menurut Chalvox, kerja-kerja budaya tidak bisa disamakan dengan kegiatan yang memiliki dukungan operasional besar. Sebagian besar inisiatif seperti ini digerakkan oleh semangat komunitas yang bekerja secara mandiri dan sukarela.

“Kegiatan ini hanya pemantik. Harapannya, akan semakin banyak pihak yang melihat pentingnya kegiatan seni dan budaya seperti ini,” katanya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah, baik kota maupun kabupaten serta organisasi perangkat daerah terkait untuk lebih terbuka dalam membangun kemitraan kreatif dengan komunitas dan praktisi budaya.
“Program yang dijalankan akan lebih berdampak jika dikerjakan bersama, bukan sekadar formalitas laporan,” tegasnya.
Ia menyoroti banyak pelaku budaya yang bekerja dalam diam dan belum mendapat sorotan publik, kalah pamor dari konten-konten populer di media sosial. “Budaya, bahasa, dan alam sering kalah rating, padahal nilai yang dikandung sangat besar,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Kintal Rum ingin membangun kebiasaan positif dan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal.
“Kami ingin lebih banyak karya budaya tersebar di platform digital. Jangan sampai ruang digital justru dipenuhi konten vulgar yang dianggap biasa,” pungkasnya.
Dengan semangat kolektif dan militansi komunitas, Kintal Rum membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa dimulai dari langkah kecil asal konsisten, inklusif, dan melibatkan generasi muda sebagai pelaku utama. *** (Imelda)
























