Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

BISNIS · 30 Oct 2025 23:17 WIT

Nyala Harapan di Kampung Bright Gas Jayapura


					Pelaku UMKM pengasapan ikan asar di Kampung Bright Gas  Dok 8 Jayapura. Foto: Katharina/Kabarpapua.co Perbesar

Pelaku UMKM pengasapan ikan asar di Kampung Bright Gas Dok 8 Jayapura. Foto: Katharina/Kabarpapua.co

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– “Hasil pembakaran ikan dengan oven gas lebih crispy (garing), warna kecoklat-coklatan merata, bukan warna gelap. Waktu pemanggangannya singkat, 30 menit,” kata Alexander Numberi, 37 tahun, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pengasapan ikan asar di Dok 8, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua.

Usaha pengasapan ikan asar yang digeluti Alexander ini cukup sukses. Dia menjelaskan bagaimana proses pengasapan ikan lebih mudah dan cepat. Apalagi setelah menggunakan oven gas, yang diberikan Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku lewat bantuan Corporate Social Responsobility (CSR).

Sebelumnya, Alex panggilan ayah tiga orang anak ini menggunakan kayu bakar untuk pengasapan ikan asar jenis ikan ekor kuning atau ikan cakalang. “Proses pengasapan ikan dengan kayu bakar memakan waktu 3-4 jam untuk mendapatkan hasil kematangan maksimal,” terangnya, saat ditemui kabarpapua.co, Rabu, 29 Oktober 2025.

Alex mengakui, pembakaran menggunakan oven gas lebih menguntungkan dari sisi keuangan hingga waktu pengerjaannya. “Sebab saat ini, mencari kayu bakar sudah sulit. Kalaupun ada yang jual, harganya mahal. Justru lebih murah harga gas 5 kilogram yang sa (saya) gunakan di oven sekarang,” katanya.

Alex kini menyadari, proses pengasapan ikan asar dengan kayu bakar akan merusak lingkungan hidup. Sebab kayu yang digunakan didapat dari hutan dan pasti harus menebang pohon untuk mendapatkan kayu-kayu bakar tersebut.

Hal yang sama juga diakui Selvi Maniani, pelaku UMKM Pengasapan Ikan Asar di Kota Jayapura. Perempuan paruh baya ini mengaku biasa membeli kayu-kayu bekas sisa pengerjaan bangunan untuk dijadikan kayu bakar.

“Harga kayu-kayu bekas itu per satu mobil pick-up Rp300 ribu. Ini pun sulit didapat. Jadi, mendapatkan kayu tra (tidak) mudah,” kata Selvi yang sudah mengerjakan pengolahan ikan asap sejak 1984.  

Selvi dan Alex adalah pelaku UMKM pengasapan ikan asar yang mendapatkan bantuan oven gas dari Pertamina setempat. Ada 8 pelaku UMKM yang mendapatkan bantuan dan pendampingan awal  dari Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku. 

“Oven ini didapat tahun 2023 dan sampai saat ini Pertamina masih melakukan pendampingan kepada kami,” kata Alex, sambil menunjuk oven gas berwarna hitam yang berada di dalam rumahnya.

Dengan adanya geliat para pelaku UMKM beralih dari proses pembakaran dan pengasapan ikan asar menggunakan energi kayu bakar ke gas, di Dok 8, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua. Maka dibuatkanlah Kelompok UMKM Kampung Bright Gas Pengolahan Ikan Asar.

Go Online

Proses pengasapan ikan asar di Kota Jayapura. Foto: Katharina/Kabarpapua.co

Selain peralihan proses pengasapan ikan dari energi kayu bakar ke gas, kini Alex memasarkan dan menjual ikan asarnya lewat aplikasi secara online. Bahkan Alex memiliki pelanggan tetap hingga luar Kota Jayapura, seperti di daerah pesisir Kabupaten Kepulauan Yapen hingga wilayah pegunungan di Provinsi Papua Pegunungan. 

Alex mengaku menjual ikan asar dikirim ke luar Jayapura dengan cara divakum lebih dulu, agar lebih awet citarasanya. “Kalau ikan asar dengan proses divakum, bisa bertahan 6 bulan. Tapi jika pengirimannya tidak divakum paling lama bertahan satu mingguan,” jelasnya.

Alex juga menjelaskan, olahan ikan asap buatannya tak pernah sepi pembeli. Bahkan saat ini,  pelanggannya di Kabupaten Kepulauan Yapen dan di Provinsi Papua Pegunungan sudah memesan ikan asar buatannya untuk perayaan Natal Desember 2025 mendatang.

Berbeda dengan Selvi yang masih menjual ikan asar hasil olahannya secara langsung di pasar tradisional di Kota Jayapura. Walau begitu, Selvi sering kebanjiran pesanan, baik untuk acara keagamaan di gereja hingga acara pesta perkawinan.

Baik Alex dan Selvi mengakui penjualan ikan asar sangat menjanjikan. Selvi mencontohkan, jika harga ikan mentah dibeli Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per ekor, maka jika sudah menjadi ikan asar olahan, harganya mencapai Rp70 ribu hingga Rp 80 ribu per ekor. “Kitorang (kami) bisa untung 100 persen,” kata Selvi.

Usaha pengasapan ikan asar yang dilakukan Selvi maupun Alex terus bekembang dan berkelanjutan. Hal ini berbuah manis untuk pengembangan UMKM di Dok 8 Kelurahan Imbi, Kota Jayapura, Papua. 

“Karena Pertamina melihat kami terus maju dan berkembang, maka Pertamina meminta ada penambahan UMKM ikan asar sebanyak 22 orang dari Kampung Bright Gas ini,” kata Alex bangga. 

Pendampingan Berkelanjutan

Pelaku UMKM pengasapan ikan asar di Kampung Bright Gas Dok 8 Jayapura Utara berharap pendampingan yang dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku terus berkelanjutan.

“Misalnya, jangan hanya pendampingan dalam pengolahan pengasapan ikan asar, tapi bisa juga pembuatan kue, pizza ataupun abon dari olahan ikan asar,” kata Selvi.

Community Development Officer IT Jayapura Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Dita Syavira Balqis Nur Rachma menjelaskan, pendampingan awal kepada pelaku UMKM pengasapan ikan asar di Dok 8 Jayapura dilakukan sejak 2023. 

Kuliner khas ikan asar dari Kampung Bright Gas Dok 8 Jayapura.
Foto: Pertamina Patra Niaga Papua Maluku

Lewat program ini yang didampingi oleh Dompet Dhuafa sebagai pelatih pemberdayaan masyarakat, Selvi, Alex dan  kelompoknya dibantu peralatan seperti smokehouse, alat vakum, timbangan digital, dan LPG Bright Gas sebagai bahan bakar untuk membantu proses pengolahan. 

Awalnya, proses pengasapan ikan asar yang dilakukan para UMKM di Dok 8 ini menggunakan kayu bakar. Pertamina memahami risiko akibat penggunaan kayu bakar yang terus menerus akan berdampak pada kerusakan lingkungan, hingga mahalnya biaya untuk pembelian kayu bakar. 

“Maka, kami (Pertamina) berinisiasi membuat Kampung Bright Gas. Kampung ini melakukan  peralihan bahan bakar dalam mengembangkan usahanya, dari kayu bakar ke gas yang lebih  ramah lingkungan. Bahkan dengan peralihan ke gas, bisa menekan biaya produksi,” kata Dita, Rabu 29 Oktober 2025.

Dita mengakui, awalnya pelaku UMKM pengasapan ikan asar ini ragu dan takut menggunakan gas karena masih awam. Kemudian diberikan pemahaman dan edukasi menggunakan gas yang benar. “Lambat laun, mereka kini sudah terbiasa gunakan gas,” katanya.

Selain itu, Pertamina juga memberikan pelatihan peningkatan kualitas masyarakat, misalnya instalasi air, termasuk dalam proses pengolahan ikan asar agar tetap  higienis. “Kami juga mulai melakukan inovasi untuk membuat turunan olahan ikan, misalnya dibuatkan abon atau sambal ikan asar,” ujarnya.

Sedangkan mendukung penjualan atau pemasarannya, saat ini ikan asar pelaku UMKM ini sudah lulus beberapa sertifikasi, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal. Bahkan saat ini sedang diproses Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) sebagai izin edar produk olahan rumah tangga yang terjamin kualitas, keamanan, serta higienitas produknya sesuai standar pasar.

“Tahun ini, kami telah menyicil memberikan sejumlah handphone (HP) ke pelaku UMKM ikan asar. Sekarang sedang diajarkan jualan online gunakan HP yang telah disiapkan. Diajarkan jualan lewat media sosial. Jika izin semua lengkap, pemasarannya akan lebih baik dan berkualitas, olahan ikan asar dari Kampung Bright Gas ini bisa tembus hingga ke luar Papua,” terang Dita.

Melalui program ini, Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku turut berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat di kota Jayapura. Hal ini selaras pengembangan ekonomi dan pemberdayaan industri masyarakat, yang masuk dalam Sustainable Development Goals poin ke 8, yaitu Decent Work and Economic Growth serta poin 9 yaitu Industry, Innovation, and Infrastructure. *** (Katharina Lita)

Artikel ini telah dibaca 88 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

PT PLN IP UBP Holtekamp Laksanakan Apel Bulan K3 Nasional 2026

21 January 2026 - 23:16 WIT

Kembangkan Kakao Berkelanjutan, Pemkab Kepulauan Yapen Gandeng Investor

21 January 2026 - 13:28 WIT

PELNI Nabire Antisipasi Super Flu di Jalur Laut

19 January 2026 - 22:47 WIT

Program MBG Tingkatkan Ekonomi Peternak Ayam Lokal di Kepulauan Yapen

19 January 2026 - 20:21 WIT

Cafe Repot, Ruang Kreatif Anak Muda Yapen Berkonsep Kolaborasi Lokal

18 January 2026 - 19:08 WIT

Pelni Serui Layani 6.770 Penumpang Selama Mudik Nataru 2025-2026

15 January 2026 - 21:06 WIT

Trending di BISNIS