KABARPAPUA.CO, Nabire – Kampung Moor dan Kampung Kama terletak di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Untuk bisa tiba di kedua kampung ini, ditempuh perjalanan darat selama 1,5 jam dari Nabire menuju Pelabuhan Samabusa. Lalu dilanjutkan menggunakan speedboat selama 2 jam perjalanan laut.
Masyarakat di Kampung Moor dan Kampung Kama selama bertahun-tahun hidup tanpa listrik. Kepala Kampung Kama, Yonathan Wayar menyampaikan, masyarakat selalu bermimpi bisa menikmati penerangan yang layak dalam menjalani kehidupannya.
“Terlebih dengan terang listrik di malam hari, anak-anak bisa lebih giat belajar. Sementara warga yang ingin beraktivitas pada malam hari tra (tidak) lagi kesulitan,” kata Yonathan.
Dia menceritakan, untuk mendapatkan penerangan, masyarakat di Kama atau Moor harus lebih dalam merogoh koceknya agar bisa membeli solar untuk menyalakan genset dan menghasilkan penerangan.
Jangan salah, kata Yonathan, perjuangan untuk membeli solar tak semudah yang dibayangkan, sebab masyarakat harus turun ke Nabire mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
“Tapi tak semua warga memiliki genset, jumlahnya terbatas, sehingga penerangan di kampung juga terbatas pada malam hari,” ujarnya.
Penerangan dari Semesta

daerah 3T menggunakan inovasi SuperSUN. (Foto : PLN Papua)
PLN berkomitmen menerangi warga di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), guna mewujudkan energi berkeadilan hingga pelosok nusantara.
Hasilnya, PLN berhasil menghadirkan sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 50 kilowatt peak (kWp). PLTS ini melistriki masyarakat Kampung Moor dan Kampung Kama.
Pemanfaatan energi surya menjadi salah satu upaya PLN dalam mewujudkan transisi energi. Saat ini jumlah pelanggan PLN di dua kampung itu mencapai 113 pelanggan.
“Puji Tuhan, kitorang (kami) su (sudah) bisa menikmati terang dari semesta. Matahari dari Tete Manis(Tuhan) bisa memberikan banyak harapan bagi warga di kampung. Sinar matahari ini menyimpan energi di alat yang dibawa PLN dan menghasilkan terang, kitorang pu (kampung kami) su (sudah) manyala (terang),” kata Yonathan bangga.
Pemanfaatan potensi di daerah setempat menjadi solusi menghadapi tantangan geografis. Selain PLTS, PLN juga membangun Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 1,78 kilometer sirkuit (kms). Jaringan ini mampu mendistribusikan listrik kepada para pelanggan.
Bukan hanya Kampung Moor dan Kama yang mendapatkan energi dari sinar matahari. Tapi SD YPK Elim Berakha Napan, Nabire, Papua Tengah juga mendapatkan terang, yang dihasilkan dari energi hijau-sinar matahari.
Untuk menembus batas itu, instalasi listrik berbasis tenaga surya, SuperSUN dihadirkan. Penyambungan SuperSUN dengan daya 1300 VA menjadi bagian program revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran tahap kedua, yang diinisiasi pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta ditugaskan ke PLN pada 2025.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui penyediaan infrastruktur dasar yang memadai, termasuk akses listrik. Sebab ketiadaan instalasi listrik sempat jadi tantangan bagi siswa dan guru dalam proses belajar mengajar.
Kepala Sekolah SD YPK Elim Berakha Napan, Afrida Matini menceritakan kesulitan siswa dan guru jika cuaca mendung melanda daerah itu.
“Hanya sinar matahari yang membuat penerangan pada siang hari di sekolah itu. Jika cuaca mendung atau gelap, kitorang (kami) juga kegelapan, sebab tak ada listrik di sekolah,” jelas Afrida.
Pihak sekolah sangat berterima kasih atas perhatian pemerintah lewat PLN yang menghadirkan SuperSUN di SD YPK Elim Berakha Napan. “Listrik stabil sangat membantu proses belajar di sekolah. Terima kasih PLN,” kata Afrida.
Manager PLN UP3 Nabire, Rakhel Monika Rumbewas menjelaskan, pemasangan SuperSUN di SD YPK Elim Berakha Napan menjadi bukti nyata komitmen PLN untuk hadir dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya di sektor pendidikan.

Foto: PLN Papua
Saat ini, terdapat 84 SuperSUN yang sudah terpasang di sejumlah titik di kabupaten yang berada di Provinsi Papua Tengah, di antaranya Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deyai, Paniai dan Intan Jaya. Jumlah pemasangan SuperSUN terbanyak di Kabupaten Intan Jaya, 22 unit.
SuperSUN menjadi solusi listrik tenaga surya, khususnya untuk wilayah 3T yang belum terjangkau jaringan listrik PLN. Pemanfaatan potensi energi terbarukan melimpah di Papua, bisa menghadirkan energi hijau yang berkeadilan, bersih dan berkelanjutan.
SuperSUN Menerangi Sekolah
Inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap atau SuperSUN untuk target program revitaliasi sebanyak 930 sekolah, yang terdiri dari 767 sekolah gabungan, 58 sekolah dasar, 84 SMP, 14 SMA, 7 SMK
Sampai hari ini, realisasi yang sudah terpasang sebanyak 313 sekolah yang dinyalakan baik menggunakan supersun atau dengan menarik jaringan (system grid)

General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Diksi Erfani Umar menjelaskan pemasangan SuperSUN ini merupakan salah satu upaya dalam mendukung peningkatan proses belajar-mengajar yang modern dan inklusif bagi anak-anak Papua.
Dijelaskan Diksi, pihaknya terus berupaya mengalirkan listrik hingga pelosok negeri sebagai bentuk tanggung jawab membangun peradaban dan ekonomi bangsa. Penyaluran SuperSUN ke sekolah-sekolah mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Papua.
“SuperSUN dirancang untuk beroperasi secara efisien dan handal sehingga bisa memenuhi kebutuhan listrik perangkat digital sekolah,” kata Diksi, Rabu 22 Oktober 2025.
Dukungan Pendanaan
Transisi energi hijau di Indonesia, termasuk di Papua mendapatkan dukungan pendanaan dari Asian Development Bank (ADB). Dukungan ADB dalam pembiayaan proyek energi berkelanjutan sangat penting bagi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) PLN. Ini juga sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) pemerintah pada tahun 2060.
Pendanaan dari ADB dikelola dengan memperhatikan aspek lingkungan dan sosial, membantu meningkatkan pemerataan akses kelistrikan yang ramah lingkungan, khususnya di wilayah timur Indonesia.
Diksi menjelaskan, sejak 2020, ADB telah menyalurkan dana sebesar USD 600 juta melalui Program Akses Energi Berkelanjutan di Kalimantan, Maluku, dan Papua (Sustainable Energy Access in Eastern Indonesia – Electricity Grid Development Program 2 (EGDP2).
Tim ADB juga telah berkunjung ke sejumlah titik di Bumi Papua, misalnya di Kabupaten Nabire, tim ADB mengunjungi Kampung Moor dan Kampung Kama, guna melihat PLTS dan jaringan listriknya.
Lalu, tim ADB juga ke Kabupaten Mappi, Provinsi Papua Selatan, untuk melihat dari dekat PLTS Muin di Mappi. Termasuk bertemu keluarga prasejahtera penerima manfaat Japan Fund for Poverty Reduction (JFPR) di Kabupaten Biak Numfor.
“Kami pastikan pendanaan diperoleh PLN memenuhi standar perlindungan lingkungan dan sosial, guna mendukung transisi energi. Tak hanya menghadirkan listrik andal bagi masyarakat, tapi juga menyediakan sumber energi ramah lingkungan,” terang Diksi. *** (Katharina)
























