KABARPAPUA.CO, Serui– Yayasan Tangan Pengharapan menghadirkan 2 orang guru untuk mengisi kekurangan guru di SD YPK Immanuel Ambai, Kabupaten Kepulauan Yapen. Kehadiran 2 guru bantuan ini menjawab keterbatasan guru di sekolah selama 5 tahun terakhir.
Saat itu tercatat murid SD YPK Immanuel Ambai berjumlah 93 siswa yang dibimbing oleh 3 tenaga pendidik, terdiri dari satu guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan dua guru honorer. Adapun 2 orang guru yang akan tinggal dan mengajar di Kampung Ambai yakni Jerlin Dewana dan Jeane Marlessy.
Kepala SD YPK Immanuel Ambai, Linus Yowei berterima kasih atas kehadiran para guru dari Yayasan Tangan Pengharapan. “Selama lima tahun terakhir, proses belajar mengajar hanya ditangani dua guru honorer dan satu kepala sekolah,” katanya.
Linus berharap masyarakat dapat menjaga dan mendukung para guru agar merasa aman dan nyaman selama bertugas di Kampung Ambai.
Koordinator Guru Tangan Pengharapan Wilayah Yapen, Jeane Marlessy menjelaskan Yayasan Tangan Pengharapan merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pendidikan, keagamaan, dan kemanusiaan tanpa mencari keuntungan.
Yayasan yang didirikan oleh Yoanes Kristianus dan Henny Kristianus pada 2007 dan hadir untuk menjawab kebutuhan pendidikan di daerah pedalaman Indonesia, terutama dalam penguatan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung.
Ia menambahkan, tujuan kehadiran Tangan Pengharapan di SD YPK Immanuel Ambai karena minimnya tenaga pengajar, agar anak-anak tidak lagi tertinggal dalam proses belajar yang semestinya mereka terima.
Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Yapen, Marinus Manufandu berharap masyarakat dapat menerima dan menjaga para guru yang datang.
“Kami bersyukur teman-teman Tangan Pengharapan dapat membantu mengatasi kekurangan guru di sekolah ini. Dukungan masyarakat sangat dibutuhkan agar mereka dapat mengajar dengan aman dan nyaman,” katanya.
Anggota DPRK Kepulauan Yapen, Rian Hendrik yang ikut mengantar 2 orangguru menjelaskan Yayasan Tangan Pengharapan merupakan bentuk aspirasi masyarakat yang dipercayakan kepadanya sebagai wakil rakyat di Komisi C yang membidangi pendidikan.
Ia menyebut, upaya menghadirkan guru relawan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawabnya dalam memperjuangkan kebutuhan pendidikan masyarakat. Rian juga menegaskan bahwa Yayasan Tangan Pengharapan hadir secara murni sukarela dan tidak dibiayai oleh pemerintah daerah.
“Yayasan ini hadir tanpa pembiayaan dari pemerintah, seluruhnya didukung oleh yayasan. Karena itu saya meminta dukungan seluruh masyarakat untuk bersama-sama membantu para guru demi peningkatan mutu pendidikan di Kepulauan Yapen,” ujarnya.
Ia berharap ke depan program serupa dapat diperluas ke distrik-distrik lain di wilayah Kepulauan Yapen yang masih mengalami kekurangan tenaga pendidik. *** (Ainun Faathirjal)


















