Menu ✖

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

PERISTIWA · 22 Aug 2025 18:29 WIT

Mahasiswa dan Pelajar Puncak Jaya Minta Penghentian Operasi Militer


					Mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Pelajar Puncak Jaya (KMPPJ) Kota Studi Jayapura unjuk rasa Kantor DPR Papua terkait krisis keamanan di Puncak Jaya. Foto: Imelda/KabarPapua.co Perbesar

Mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Pelajar Puncak Jaya (KMPPJ) Kota Studi Jayapura unjuk rasa Kantor DPR Papua terkait krisis keamanan di Puncak Jaya. Foto: Imelda/KabarPapua.co

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Ratusan mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Pelajar Puncak Jaya (KMPPJ) Kota Studi Jayapura unjuk rasa Kantor DPR Papua, Jumat 22 Agustus 2025.

Pendemo menyuarakan keprihatinan atas kondisi kemanusiaan yang memburuk di Kabupaten Puncak Jaya, khususnya di Distrik Lumo, Mewoluk, dan Ilamburawi.

Dengan membentangkan spanduk dan famlet tuntutan, para peserta aksi menyerukan penghentian kekerasan bersenjata dan operasi militer yang dinilai telah menimbulkan penderitaan mendalam bagi masyarakat sipil.

Koordinator Lapangan Aksi, Otty Telenggen, dalam orasinya menyebut situasi di Puncak Jaya sebagai darurat kemanusiaan, ada trauma, ketakutan, dan hilangnya rasa aman. “Termasuk anak-anak kehilangan akses pendidikan, perempuan dan keluarga terpaksa mengungsi, sementara ekonomi rakyat lumpuh total,” kata Otty.

Dia menjelaskan pendekatan militeristik telah menciptakan krisis multidimensi: kemanusiaan, pembangunan, dan kepercayaan terhadap negara. KMPPJ menolak segala bentuk kekerasan bersenjata dan menyerukan solusi berbasis dialog, pendidikan, dan pembangunan manusia.

Aksi tersebut juga menyoroti insiden tragis pada 8 Agustus 2025, saat operasi militer di Distrik Mewoluk diduga menyebabkan 3 anak di bawah umur menjadi korban tembakan. Dua di antaranya dirawat secara tradisional di hutan karena pengungsian massal, sementara satu korban dirujuk ke RSUD Harapan, Jayapura.

KMPPJ mendesak Pangdam XVII/Cenderawasih untuk segera menarik pasukan non-organik dari wilayah terdampak, serta meminta pemerintah pusat dan daerah membangun pusat pengungsian dengan fasilitas dasar.

“Papua tidak butuh lebih banyak pasukan, melainkan lebih banyak ruang dialog, pendidikan, kesehatan, dan pembangunan manusia,” kata Otty.

Aspirasi mahasiswa diterima oleh Wakil Ketua Fraksi NasDem DPR Papua, Alberth Meraudje, yang berkomitmen menindaklanjuti tuntutan tersebut. “Sebagai wakil rakyat, kami menerima aspirasi ini dan akan meneruskannya kepada instansi terkait sesuai mekanisme yang berlaku,” ujar Alberth. **** (Imelda)

Artikel ini telah dibaca 90 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Hari Ketiga Operasi Patuh Cartenz 2026, Polres Kepulauan Yapen Jaring 49 Kendaraan

29 October 2026 - 23:28 WIT

Yonif TP 909 KRP Pererat Silaturahmi dengan Jemaat Gereja Alfa-Omega Panduami

29 October 2026 - 22:45 WIT

Warga Sipil Ditikam di Dekai, Keterlibatan KKB Diselidiki

28 October 2026 - 20:31 WIT

Hari Sumpah Pemuda Ke-98, Kapolres Kepulauan Yapen Ajak Pemuda Jaga Persatuan

28 October 2026 - 19:57 WIT

Polisi Tangkap Terduga Penganiayaan Bule Belanda di Manokwari

28 October 2026 - 16:12 WIT

Sasar Pelanggaran Lalu Lintas, Polres Waropen Gelar Operasi Patuh Cartenz 2026

27 October 2026 - 21:12 WIT

Trending di PERISTIWA