KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mencatat sebaran titik panas (hotspot) di wilayah Tanah Papua terbanyak ditemukan di Kabupaten Merauke, Kabupaten Mappi, dan Kabupaten Boven Digoel. Lonjakan hotspot ini dipicu oleh fenomena El Nino yang masih aktif dan mencapai puncaknya di periode musim kemarau saat ini.
Ketua Tim Kerja Layanan Meteorologi Publik BMKG Wilayah V Jayapura, Finnyalia Napitupulu menjelaskan berdasarkan pemantauan pada 21 Oktober 2026 pukul 02.00 WIT hingga 18.00 WIT, terdeteksi sebanyak 628 titik hotspot di seluruh wilayah Papua.
“Secara umum, sebaran hotspot paling banyak terpantau di Kabupaten Merauke sebanyak 338 titik, diikuti Kabupaten Mappi sebanyak 90 titik, dan Kabupaten Boven Digoel sebanyak 55 titik,” ujar Finnyalia.
Dari total 628 titik api tersebut, mayoritas didominasi oleh hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang sebanyak 406 titik (64,6%), tingkat kepercayaan tinggi sebanyak 149 titik (23,7%), dan tingkat kepercayaan rendah sebanyak 73 titik (11,6%).
Khusus untuk Kabupaten Mappi, BMKG memberikan catatan dan perhatian khusus. Wilayah ini terdeteksi memiliki banyak hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi yang mengindikasikan kemungkinan besar adanya titik api aktif di lapangan yang berpotensi memicu kebakaran lahan skala besar.
Ancaman El Nino
Finnyalia membeberkan bahwa hasil monitoring atmosfer dan laut menunjukkan nilai Southern Oscillation Index (SOI) tercatat sebesar -18.9 dan indeks Nino 3.4 mencapai +2.78. Kondisi tersebut menandakan bahwa fenomena El Nino yang aktif sejak Mei lalu kini telah mencapai intensitas sangat kuat pada Oktober 2026.
“El Nino diprediksi akan bertahan hingga awal tahun 2027. Sementara itu, puncak musim kemarau berlangsung sejak Juli hingga Oktober 2026,” lanjutnya.
Kombinasi fenomena ini berdampak langsung pada penurunan intensitas curah hujan, meningkatnya hari tanpa hujan, berkurangnya ketersediaan air, kondisi lahan menjadi sangat kering, serta meningkatnya suhu udara pada siang hari yang memicu risiko tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Selain ancaman Karhutla dan kekeringan, BMKG memperingatkan dampak turunan yang mengintai masyarakat, seperti penurunan kualitas udara akibat asap, timbulnya penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), gangguan transportasi darat dan udara akibat jarak pandang terbatas, hingga kerusakan pada sektor pertanian dan perkebunan.
Rekomendasi BMKG
Menanggapi situasi ini, BMKG Wilayah V Jayapura menyampaikan sejumlah rekomendasi penting kepada Pemerintah Daerah dan seluruh pemangku kepentingan:
-
Penguatan Kesiapsiagaan: Pemda diminta meningkatkan koordinasi, memperbarui rencana kontingensi, serta menyiagakan personel dan sarana prasarana penanggulangan Karhutla.
-
Patroli dan Pemantauan: Instansi terkait diimbau meningkatkan patroli terpadu, pengawasan terhadap pembukaan lahan, serta memperkuat sistem peringatan dini melalui data BMKG.
-
Pengelolaan Sumber Air: Memastikan ketersediaan air pemadaman dengan mengisi waduk, embung, atau bendungan, serta mempercepat distribusi air bersih bagi daerah yang terdampak kekeringan.
-
Imbauan bagi Masyarakat: Masyarakat dilarang keras melakukan pembakaran lahan saat membuka kebun atau membersihkan area tanah. Masyarakat juga diminta segera melaporkan ke pihak berwenang jika melihat titik api atau asap agar dapat ditangani secara cepat sebelum meluas. *** (Katharina)








