Menu ✖

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

PERISTIWA · 1 Oct 2026 10:47 WIT

4.108 Titik Panas Masih Menyala di Tanah Papua


					Peta sebaran titik panas di seluruh wilayah Papua. Foto: BMKG wilayah V Jayapura. Perbesar

Peta sebaran titik panas di seluruh wilayah Papua. Foto: BMKG wilayah V Jayapura.

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Sebanyak 4.108 titik panas (hotspot) terpantau masih menyala di seluruh wilayah Papua akibat kombinasi musim kemarau dan fenomena iklim El-Nino yang kini berada dalam intensitas sangat kuat.

Berdasarkan hasil monitoring atmosfer dan laut per 1 Oktober 2026 dari BMKG wilayah V Jayapura menyebutkan nilai Southern Oscillation Index (SOI) tercatat sebesar -19,7 dan indeks Nino 3.4 sebesar +2,72. Kondisi ini menunjukkan bahwa El-Nino yang telah aktif sejak Mei lalu telah mencapai intensitas sangat kuat pada Oktober 2026 dan diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027. Keadaan tersebut memicu penurunan curah hujan, peningkatan hari tanpa hujan, serta kekeringan lahan di berbagai wilayah Papua.

Berdasarkan pemantauan hotspot yang dilakukan pada 30 September 2026 pukul 02.00 WIT hingga 1 Oktober 2026 pukul 02.00 WIT, sebaran 4.108 titik api ini didominasi oleh tingkat kepercayaan sedang sebanyak 3.630 titik (88,4%), tingkat kepercayaan tinggi sebanyak 292 titik (7,1%), dan tingkat kepercayaan rendah sebanyak 186 titik (4,5%).

Kabupaten Merauke tercatat sebagai wilayah dengan sebaran hotspot terbanyak secara keseluruhan yakni mencapai 2.310 titik, diikuti oleh Kabupaten Fakfak sebanyak 669 titik, dan Kabupaten Kaimana sebanyak 348 titik. Banyaknya titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah-wilayah tersebut menuntut perhatian dan penanganan khusus karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih luas.

Kombinasi El-Nino dan puncak kemarau ini meningkatkan berbagai risiko serius, mulai dari penurunan kualitas udara akibat asap, potensi gangguan kesehatan masyarakat seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), terganggunya transportasi darat dan udara akibat jarak pandang yang berkurang, hingga kerusakan lahan pertanian dan perkebunan.

Menanggapi situasi darurat ini, pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan secara terpadu. Pemerintah daerah diminta memperbarui rencana kontingensi, memastikan kesiapan personel serta sarana prasarana penanggulangan karhutla, dan memperkuat sistem peringatan dini.

BMKG setempat mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka kebun atau membersihkan lahan, serta segera melaporkan kepada instansi berwenang apabila menemukan titik api atau kepulan asap agar penanganan dapat dilakukan secara cepat sebelum meluas. *** (Katharina/Rls)

Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Korp Raport Kenaikan Pangkat, Dandim 1709 Yawa Tekankan Amanah dan Tanggung Jawab

1 October 2026 - 22:39 WIT

Jaringan Kurir Amunisi Ilegal di Mimika Dibongkar, Berikut Peranan Masing-masing

1 October 2026 - 11:34 WIT

DPO Terduga Pemasok Senjata Api dan Amunisi Ditangkap di Kota Jayapura

30 September 2026 - 21:53 WIT

Kronologi Unjuk Rasa di Kampus USTJ Jayapura yang Berujung Anarkis

30 September 2026 - 21:28 WIT

Polres Kepulauan Yapen Menangkap Dua Tersangka Dugaan Peredaran Sabu

29 September 2026 - 22:49 WIT

Cerita Satu Keluarga Eks OPM yang Menemukan Jalan Pulang

27 September 2026 - 20:52 WIT

Trending di PERISTIWA