KABARPAPUA.CO, Nabire– Dahulu dipandang sebelah mata dan identik dengan citra negatif, kini seni rajah tubuh atau tato telah bertransformasi menjadi industri kreatif yang menjanjikan. Di balik suara dengung mesin coil dan rotary, terdapat para pekerja seni yang mendedikasikan hidupnya pada akurasi, higienitas, dan nilai estetika tinggi.
Bagi Dwi, seorang seniman tato di balik bendera Nabite, tato bukan sekadar hobi atau pekerjaan sampingan. Ini adalah profesi sakral di mana kulit manusia menjadi kanvasnya, sekaligus menjadi ladang produktif yang terus menambah pundi-pundi pendapatannya.
Jalur Otodidak
Memulai perjalanannya sejak tahun 2022, Dwi membuktikan bahwa bakat dan ketekunan bisa berjalan beriringan meski tanpa pendidikan formal di bidang seni visual.
“Saya jadi seniman tato sejak 2022. Saya belajar secara otodidak, tapi bersyukur banyak karya saya yang tidak mengecewakan klien,” jelas Dwi saat ditemui di studionya.
Harga Mati Sebuah Profesionalisme
Menjadi seniman tato profesional ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar mahir menggambar. Ada tanggung jawab moral dan medis yang dipikul di ujung jarum. Dwi menekankan bahwa keamanan klien adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
“Selalu saya perhatikan keamanan medis, jadi tidak asal tato,” ujar Dwi sembari mengenakan sarung tangan latex hitamnya, bersiap memulai sesi. Sebelum jarum menyentuh kulit, proses sterilisasi peralatan menjadi ritual wajib. Penggunaan jarum sekali pakai dan tinta standar profesional adalah standar yang ia pegang teguh.
Melawan Stigma
Meski industri ini terus tumbuh pesat, tantangan terbesar bagi para seniman tato masih berkutat pada stigma sosial yang melekat sejak lama. Namun, gelombang baru seniman muda seperti Dwi memilih untuk menjawab keraguan masyarakat dengan standar profesionalisme internasional.
Secara ekonomi, industri ini pun kian menggiurkan. Satu karya tato kini bisa dihargai mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, sangat bergantung pada tingkat kerumitan desain serta jam terbang sang seniman.
Kini, tato juga dianggap sebagai bentuk terapi diri atau cara mengabadikan memori. Para seniman tato seringkali berperan sebagai pendengar yang baik, menyerap cerita hidup klien sebelum menuangkannya ke dalam desain visual yang unik dan personal.
Kini, industri tato modern tak lagi bicara soal pemberontakan, melainkan tentang apresiasi terhadap tubuh, kebebasan berekspresi, manajemen kerja profesional.
Bagi Dwi dan rekan seprofesinya, setiap tetes tinta adalah warisan visual yang akan dibawa seumur hidup oleh pemiliknya. Sebuah tanggung jawab besar yang dikerjakan dengan penuh rasa hormat. *** (Agies Pranoto)
























