KABARPAPUA.CO, Jakarta– Perubahan sikap Partai Demokrat terkait mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) memicu diskusi hangat di ruang publik. Partai berlambang bintang mercy yang satu dekade lalu—di bawah kepemimpinan SBY—gigih memperjuangkan Pilkada langsung, kini justru memberikan sinyal dukungan terhadap opsi Pilkada melalui DPRD.
Pakar politik sekaligus Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign, Nasarudin Sili Luli, menilai langkah ini bukanlah sekadar perubahan ideologi, melainkan sebuah teknik “Political Bluffing” (gertakan politik) yang terukur.
Teknik ‘Bluffing’ dalam Catur Politik
Nasarudin menjelaskan bahwa dalam kompetisi politik yang ketat, bluffing adalah hal lumrah untuk memancing respons lawan atau kawan koalisi. Pihak yang melakukan gertakan tidak menunjukkan niat aslinya secara terang-terangan hingga lawan bergerak ke arah yang diinginkan.
“Manuver Demokrat dan AHY ini adalah teknik gertakan kepada Prabowo Subianto. Tujuannya jelas: menjaga relevansi AHY sebagai kandidat cawapres potensial untuk mendampingi Prabowo pada Pemilu 2029,” ujar Nasarudin.
Manajemen Impresi dan Nilai Simbolik
Selain bluffing, Nasarudin melihat adanya strategi Manajemen Impresi, sebuah teori dari sosiolog Erving Goffman. AHY sedang membangun citra bahwa dirinya adalah mitra strategis yang paling pantas berada di sisi Prabowo.
Berdasarkan teori Jean Baudrillard mengenai nilai intrinsik-simbolis, manuver politik ini berfungsi menaikkan “harga” AHY sebagai “komoditas” politik dalam koalisi. Pesan simbolik yang dikirimkan Demokrat seolah mengingatkan Prabowo bahwa AHY memiliki basis massa yang matang dan loyalitas yang patut diperhitungkan. *** (rilis)
























