Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

KABAR PAPUA BARAT · 2 Apr 2024 21:06 WIT

Mengenal Keunikan Kampung di Fakfak Papua Barat


					Tugu Satu Tungku Tiga Batu Fakfak sebelum dirusak. Foto: Balleo News Perbesar

Tugu Satu Tungku Tiga Batu Fakfak sebelum dirusak. Foto: Balleo News

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Kabupaten Fakfak di Provinsi Papua Barat, masyarakatnya dikenal memiliki toleransi beragama sangat tinggi. Hal ini tercermin dari filosofi satu tungku  tiga batu, yang bermakna  bahwa ketiga batu itu dilambangkan sebagai tiga agama yang sama kuat dan menjadi kesatuan yang seimbang untuk menopang kehidupan dalam keluarga. 

Tiga agama ini yaitu Islam, Kristen Protestan dan Katolik. Tidak jarang dalam satu keluarga di Fakfak terdapat tiga agama, tetapi mereka tetap hidup rukun dan damai disertai nilai-nilai toleransi yang tinggi.

Kampung-kampung di Fakfak sangat unik dan memiliki ciri khas tersendiri. Kampung-kampung di Fakfak pada umumnya ditandai oleh tempat ibadah sebagai ikon sekaligus penanda. Jika sebuah kampung terdapat gereja, maka itu berarti kampung yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Sedangkan pada kampung yang terdapat masjid berarti itu adalah kampung Islam.

Selain tempat ibadah sebagai penanda, traveler yang berkunjung ke Fakfak dapat menyaksikan hewan peliharaan penduduk sebagai penanda. Untuk kampung Islam, ditandai dengan banyaknya kambing peliharaan milik penduduk. Kambing-kambing ini dibiarkan bebas berkeliaran begitu saja. Terkadang pada malam hari, kambing-kambing ini tidur di jalan raya, sehingga para pengemudi mobil atau pengendara sepeda motor wajib berhati-hati. 

Sebagai penanda kepemilikan kambing-kambing ini, setiap kambing diberi kalung penutup botol plastik warna warni oleh pemiliknya.

Untuk kampung yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, biasanya ditandai dengan banyaknya anjing yang dipelihara warga. Anjing-anjing ini untuk menjaga rumah, teman berburu atau untuk menemani berkebun. *** (Hari Suroto-Peneliti Arkeologi BRIN)

Artikel ini telah dibaca 525 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

“Doom Tra Kosong” Bikin Milenial Sorong Jago Speaking

6 May 2026 - 10:27 WIT

Lahir di WPFD 2026, Deklarasi Jayapura Jadi Tonggak Pers Berkualitas dari Timur Indonesia

5 May 2026 - 22:30 WIT

Jubir Gubernur Papua Apresiasi Terbentuknya Forum Pemred Papua

4 May 2026 - 10:10 WIT

Hari Kebebasan Pers Sedunia, Komnas Perempuan: Jurnalis Perempuan Hadapi Risiko Berlapis

4 May 2026 - 05:01 WIT

Momentum WPFD 2026, AJI Indonesia: Hentikan Praktik Sensor dan Swasensor pada Jurnalis dan Media

3 May 2026 - 15:55 WIT

Komite Publisher Rights dan Komunitas Pers Peringati WPFD 2026 di Papua

3 May 2026 - 14:54 WIT

Trending di RAGAM