Menu

Mode Gelap

NOKEN · 18 Agu 2021 ·

Makna Berbangsa dan Bernegara Setelah Indonesia Merdeka 76 Tahun


					Oleh: Ambassador Freddy Numberi Laksamana Madya TNI (Purn)
(Dok Pribadi) Perbesar

Oleh: Ambassador Freddy Numberi Laksamana Madya TNI (Purn) (Dok Pribadi)

OPINI

Oleh: Ambassador Freddy Numberi, Laksamana Madya TNI (purn)*

Apa yang dapat kita petik dan maknai dalam peristiwa Hari Kemerdekaan RI yang ke 76 ini. Ternyata setelah 76 tahun Indonesia merdeka dan kembalinya Papua secara ab initio  dan sesuai prinsip internasional uti possideti juris masih saja terjadi konflik. Konflik ini sudah berlangsung 58 tahun lamanya sejak 1 Mei 1963. Konflik-konflik yang terjadi di Indonesia setelah Indonesia merdeka memberikan pembelajaran bagi kita bahwa ke-Indonesiaan kita dalam hal berbangsa dan bernegara ternyata masih belum mapan dan dewasa, meskipun negara ini telah merdeka 76 tahun lamanya.

 Presiden Soekarno pernah berkata:

“ Saudara sebangsa dan setanah air, kalau jadi Hindu, jangan jadi India, kalau jadi Islam, jangan jadi Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi Yahudi. Tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini. Ingatlah wahai saudara-saudara,…

Musuh yang terberat itu adalah rakyat sendiri…

Rakyat yang mabuk akan budaya luar…

Yang kecanduan agama,, yang rela membunuh banganya sendiri demi menegakan budaya asing.  Tetaplah bersatu padu membangun negeri ini tanpa pertumpahan darah…..” 

Sebagai suatu bangsa yang besar yang terdiri dari beragam etnis, suku dan agama, kita belum memahami secara baik dan benar makna sasanti Bhinneka Tunggal Ika ( Berbeda-beda tetapi tetap satu) yang diwariskan oleh pendiri negeri ini sebagai semboyan negara maupun dasar falsafah negara Pancasila serta UUD 1945.

Baca Juga >  Keladi Sagu Rasaka Cartenz Obati Pasien ISPA di Kota Jayapura

Semestinya kita bisa menghayati dan mengimplementasikan falsafah Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara dalam kehidupan sehari-hari kita agar terbangun sebuah keharmonisan dan kerukunanan diantara sesama anak bangsa terutama generasi muda agar menjadi generasi milenial yang unggul dan yang paling utama adalah agar mencintai Indonesia.

Namun pada kenyataannya, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hingga kini, kita lebih sering terjangkit penyakit kronis yang laten dan turun temurun yaitu “AIDSS”. AIDSS yang dimaksud penulis adalah                         “ Angkuh, Iri, Dendam, Serakah dan Sara”. Sangat ironis!

Dalam visi Presiden Jokowi-Ma’Aruf Amin (2020-2024), salah satu butirnya adalah Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia. Harapan penulis adalah peningkatan SDM Indonesia bukan hanya dari aspek ilmu pengetahuan saja, tetapi juga peningkatan kualitas dalam hal pengahayatan terhadap nilai-nilai kebangsaan Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika, agar menjadi manusia unggul yang rendah hati, bermartabat dan berakhlak mulia dalam membawa bangsa Indonesia terus kedepan agar dihormati dan dihargai oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Baca Juga >  Sukacita Warga Kago Puncak Sambut Keladi Sagu Rasaka Cartenz

Pada tatanan elit politik yang ada apabila tidak dikelola dengan baik bisa berdampak buruk pada rakyat kecil. Dari pengalaman empiris perpolitikan di Indonesia semakin terasa bahwa stabilitas politik terdapat pada ranah para elite. Untuk itu diharapkan bahwa para eilite politik di Indonesia ketika memberi pernyataan atau  tanggapan harus bisa “menyejukan”, terutama dalam konteks Papua, kita harus lebih bijak dan berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan karena generasi milenial Indonesia saat ini semakin pintar dan kritis menelaah pernyataan-pernyataan yang ada.

Sudah selayaknya panggung politik yang ada dalam bangsa ini diberikan makna ke-Indonesiaan, bukan justru malah menyulut pertikaian atau perpecahan. Dinamika politik kadangkala berkembang secara tajam dan menyakitkan, tetapi harus ada batasan yang terukur untuk menghindari perpecahan diantara kita.

Sekali lagi, kita harus menghindari diri dari “politik adu domba”  diantara kita yang merupakan warisan kolonial masa lalu agar tidak meracuni keharmonisan politik negeri ini dalam membangun Indonesia yang kita cintai bersama dalam era globlalisasi dewasa ini.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-76 Tahun 

Jakarta, 17 Agustus 2021.

*Ambassador Freddy Numberi, Laksamana Madya TNI (purn),  Ketua Umum Forum Senior dan Milenial Papua.

*OPINI ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi KabarPapua.co.

Artikel ini telah dibaca 51 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Catatan Pemilu 2019 dan Komitmen Perbaiki Demokrasi di Kota Jayapura

3 April 2023 - 16:34

Paskah Saat Terindah untuk Mengalami Kasih dan Pengampunan dari Allah

16 April 2022 - 07:16

Dosa Menempel Pekat: Sini Sa Perkosa Ko, Kata-Kata Paling Menyayat Hati Jurnalis Perempuan 

22 Februari 2022 - 15:34

Mencari Solusi Komperhensif Bagi Keamanan Manusia di Tanah Papua

21 Februari 2022 - 15:01

Keterbukaan Informasi Sebagai Upaya Pencegahan Tindak Pidana Korupsi

19 Februari 2022 - 15:50

Harapan Presiden Sukarno pada 1 Mei 1963

17 Februari 2022 - 16:10

Trending di NOKEN